Artikel
 /  Artikel / Harta yang Paling Berharga adalah Keluarga

Harta yang Paling Berharga adalah Keluarga

Live in yang berlangsung pada tanggal 15-19 April 2011 mengajarkan aku banyak pengalaman hidup yang berharga.  Selama live in kemarin, aku tinggal di desa Tepus, Wonosari, tepatnya di Dusun Gembuk.  Aku tinggal dalam keluarga bersama ibu asuhku saja, Ibu Tutini.  Suami Ibu Tutini telah meninggal. Di rumah, ibu hanya tinggal sendirian. Aku yakin ibu pasti merasa kesepian setiap harinya karena ia hanya tinggal seorang diri di rumah.

Baru ketika malam hari, Mas Yusup dan Mbak Emi pulang dari Wonosari, dan itu pun sewaktu aku sudah tidur sehingga aku belum sempat bertemu dengan keduanya.  Hari esoknya pun, pagi hari Mas Yusup dan Mbak Emi sudah pergi lagi ke rumah orang tua Mbak Emi yang terletak sama di Desa Tepus.  Sehingga tidak ada yang menemani ibu di rumah walaupun anaknya baru saja pulang dari Tangerang.  Selain itu, ibu juga bercerita kalau pada waktu suaminya meninggal, tidak lama kemudian mertua ibu juga meninggal.  “Lalu beberapa waktu setelah itu, gantian cucu ibu yang meninggal,” kenang Bu Tutini. Kata ibu dalam waktu 3 bulan ada 3 keluarga ibu yang meninggal. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu saat itu, yang demikian sedih dan terpukul.

Dalam kehidupan ibu sehari-hari, ibu sudah tidak bekerja lagi.  Kaki ibu menderita sakit asam urat sehingga hal tersebut mengganggu ibu dalam melakukan aktivitasnya.  Kalau siang hari karena suasana rumah yang sepi, ibu hanya istirahat di kamar.  Tetapi katanya, saat ini kakinya sudah lumayan tidak sakit seperti yang dulu karena baru saja kaki ibu disuntik.  Bahkan akhir-akhir ini ibu sudah jarang pergi ke kapel karena sakit pada kakinya tersebut.  Katanya, “Kaki ibu tidak kuat untuk naik ke tangga kapel.” Ibu hanya keluar dari rumah jika ada perlu saja misalnya ke warung atau ke pasar, selain karena alasan tersebut ibu hanya di rumah dan tidak pernah pergi ke ladang dan sebagainya. Aku yakin dengan kedatanganku dan Dita kemarin dapat sedikit menghibur ibu yang tadinya kesepian di rumah.  Aku dan Dita memang bisa membantu dalam mengurus rumah tangga, seperti memasak, mencuci piring, dan lain-lain sehingga aku berharap dapat sedikit meringankan beban ibu walaupun hanya dalam beberapa hari.

Setelah saatnya tiba aku dan Dita harus pulang kembali ke Semarang, aku berpamitan pada ibu.  Sewaktu aku berpamitan pulang, suasana haru menyelimuti kami.  Ibu tampak meneteskan air mata saat aku dan Dita berpamitan.  Aku pun merasakan kesedihan yang sama bila mengingat pertemuan kami yang singkat di rumah ibu.  Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu saat itu, saat dirinya kembali seorang diri di rumah.

Melalui pengalamanku tersebut, aku menyadari bahwa betapa berharganya kebersamaan itu, dan betapa berharganya keluarga, keluarga yang saling menyayangi, dan saling menjaga satu sama lain. Aku merasa sangat bersyukur dengan apa yang aku miliki dan ada saat sekarang ini.  Dalam kehidupanku sekarang di Semarang, aku bisa berkumpul bersama keluargaku, aku bisa menghabiskan waktu bersama dengan keluarga.  Aku jarang merasa kesepian seperti apa yang dirasakan oleh ibu di desa Tepus sana.  Ibu hidup dalam suasana yang sepi, tidak ada yang menemani keseharian ibu di rumah. Anak-anaknya sudah pergi semua dari rumah untuk menjalankan tugasnya masing-masing, sedangkan suaminya telah meninggal. Sedangkan aku, sekarang ini selalu ada orang yang menemaniku, dan menghiburku di saat aku sedih ataupun di saat aku sedang menghadapi suatu masalah. Kebersamaan itu aku rasakan dan aku dapatkan dalam kehidupanku sehari-hari. Kehidupan yang dijalani selama live in kemarin benar-benar berbeda dengan kehidupanku sekarang ini.  Aku sungguh-sungguh mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan padaku, terutama keluarga yang selalu menyayangi aku dan selalu berada di sampingku. Bagiku sekarang, harta yang paling berharga adalah keluarga!

Ad Maiorem Dei Gloriam.

Penulis: Anita Widiasari

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked.*

SMA KOLESE LOYOLA
Jl. Karanganyar No.37 Semarang, Indonesia 50135
Tlp.(024)3546945 – 3548431 Fax (024)3548200
Email: koleseloyola@loyola-smg.sch.id

see maps

NEWSLETTER

FOLLOW US