Live In Kelas X

Belajar dari pengalaman Ignatius yang ditulis di buku “Lahir untuk Berjuang” :

“Sudah sejak permulaan, ia menyadari bahwa pengetahuan bahasa latinnya tidak cukup baik untuk maju dalam bidang-bidang lain. Ia memutuskan untuk memulai lagi dari dasar. Maka ia duduk bersama dengan anak-anak lagi, dan belajar bahasa mulai dari awal. “

Adalah penting sebagai siswa SMA Kolese Loyola untuk merelevansikan pengalaman Ignatius dalam pengalamannya, yaitu dalam mengalami kegiatan Live in, karena mereka siswa kolese Jesuit. Tentu tidak mudah untuk melakukan hal ini. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk mendalami pengalaman Ignatius tersebut yaitu dengan menemukan pengalaman pribadi yang mirip dengan pengalaman Ignatius, dan menemukan nilai dalam pengalaman tersebut. Misalnya, keinginan kuat/niat untuk mencapai tujuan, kerendahan hati, dan terlibat secara utuh (ajur ajer).

Tidaklah mudah bagi Ignatius, seorang yang sudah cukup usia dan berlatar belakang budaya Spanyol, masuk, hidup, dan belajar bersama “anak-anak kecil dalam budaya dan etiket Paris”. Begitu pun halnya, menjadi tidak mudah bagi siswa untuk Live in di keluarga asuh yang baru dan memiliki latar belakang budaya dan etiket masyarakat desa.

Secara sederhana apa yang dialami Ignatius dan yang akan dialami oleh siswa dalam Live in dapat dibagi dalam beberapa tahapan. Pertama, siswa mau berproses, ada NIAT’. Keingingan yang kuat untuk berproses dan diproses supaya dapat mencapai tujuan. Kedua, ketika hidup bersama dengan keluarga dan masyarakat, siswa dapat ajur ajer , yaitu mengenali, mengalami, dan memahami etiket yang ada supaya dirinya dan orang lain merasa nyaman berinteraksi. Ketiga, untuk dapat saling mengembangkan dibutuhkan kerendahan hati dan keinginan kuat untuk mau belajar. Tidaklah mudah bagi Ignatius untuk belajar bersama “anak-anak kecil” dan dalam budaya berbeda. Hal yang sama juga akan dialami siswa di tempat Live in, yaitu ketika mereka harus bertanya bagaimana cara mencangkul, melipih jagung, bercocok tanam, mencuci pakaian, dll., dan belajar memahami dan bertindak sesuai etiket di desa.

Banyak hal yang akan mereka alami, dan tidak hanya sekadar mengalami tetapi juga mengolah pengalaman yang mereka dapatkan baik lewat wawan hati dengan wali kelas, maupun dengan merefleksikan hal tersebut secara pribadi. Saat maupun ketika menyelesaikan studinya di Paris, Ignatius berefleksi dan menemukan habitus baru yang disebutnya “mengalami Metode Paris”. Hal ini yang di kemudian hari menjadi metode yang digunakan seluruh kolese jesuit di dunia. Diharapkan dari hasil refleksinya siswa juga menemukan habitus baru yang akan dihidupinya baik sebagai siswa di sekolah, dalam keluarga, maupun dalam masyarakat.

Proses pendampingan Live in 2016 menggunakan proses pendampingan perwalian secara Ignatian. Wali kelas X menggunakan kegiatan Live in sebagai sarana untuk mengembangkan potensi kelasnya masing-masing dengan keunikan yang ada di kelas berpedoman pada pengalaman Ignatius.

Live in 2016 memberikan kesempatan wali kelas untuk semakin mengembangkan potensi kelasnya, yaitu dengan menset tujuan, proses yang akan dilakukan, dan membangun komitmen kelas supaya dapat berproses dan mencapai tujuan. Oleh karena itu, penting bagi wali kelas untuk berkonsultasi dengan guru BK untuk mengevaluasi dinamika dan memetakan proses perkembangan kelas dan tiap pribadi di kelas untuk menset tujuan dari kegiatan Live in ini.

Tentu saja tidak mudah menilai Live in ini berhasil atau tidak ketika live in ini dijalankan, ataupun pada saat hari terakhir Live in. Justru Live in ini dikatakan berhasil jika satu atau dua bulan setelah Live in, atau bahkan ketika saat kenaikan kelas, wali kelas dan BK duduk bersama mendiskusikan apa yang telah berubah atau apa yang belum berkembang dari pribadi si A atau si B, atau kemajuan apa yang telah dibuat kelas yang membuatnya berbeda –sebelum melakukan Live in dan sesudahnya- dan konsistensi siswa kelas X untuk tetap melakukan hal yang baik. Semuanya bergantung pada pendamping dan proses yang dilakukannya dalam mendampingi, seperti tertulis dalam KS, “Pohon yang baik, pastilah menghasilkan buah yang baik.” (Mat 7:17)

TUJUAN

Dengan hidup/tinggal bersama masyarakat setempat (manjing), meleburkan diri dalam kebiasaan yang ada dalam keluarga (ajur),dan bergaul dengan siapa saja sesuai dengan etiket (ajer) siswa dapat mencapai tujuan yang dibuat oleh wali kelas untuk perwaliannya.

PELAKSANAAN

Live in SMA Kolese Loyola dilaksanakan pada :

1. Hari/tanggal : Jumat s.d. Selasa (4 – 8 Maret 2016)

2. Tempat : Paroki St. Yusuf, Baturetno, Wonogiri

3. Peserta : 264 siswa kelas X SMA Kolese Loyola

4. Pendamping : 1 Frater dan 16 guru pendamping.

5. Sifat kegiatan : Wajib. Bagi siswa yang tidak dapat mengikuti kegiatan pada hari yang ditentukan, kegiatan live in siswa akan digantikan setelah pelaksanaan live in. Tempat, penyelenggara, dan waktu akan dibantu instansi lain.

Selamat Berjuang !!!!!!!!!!

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *