Mata Hati yang Terbuka

Pada hari kedua aku menjalani live in, tepatnya hari Minggu, 15 April 2012, aku bersama Ajeng teman serumahku pergi bersama ibu asuhku, Ibu Suwarsih ke ladang untuk memanen bawang. Dengan semangat, kami memanen bawang tersebut. Hal ini merupakan pengalaman pertama kami memanen bawang. Setelah beberapa lama memanen akhirnya aku bertanya kepada ibu, sampai mana kita akan memanen bawang tersebut. Ibu tersenyum dan menjawab: “sak kersane mengko gowo balike mbak”. Ibu tersenyum karena kami mencabut bawang sangat banyak, terlalu banyak padahal ibu hanya membawa satu karung saja. Kami yang merasa sungkan akhirnya menawarkan diri untuk membawa karung yang berisikan bawang tersebut. Ternyata karung itu sangat berat, aku tetap saja tidak kuat meskipun telah membawa bersama Ajeng. Ibu yang melihat kami kesusahan berjalan akhirnya meminta karung tersebut.

Perjalanannya memang tidak begitu jauh, namun jalanannya sangat licin. Apalagi ladang berada di daerah atas sedangkan rumahku berada di daerah bawah. Jalan yang kami lewati pun cukup curam sehingga aku kagum dengan ibu yang bisa menahan tubuh saat berjalan turun sambil membawa karung berisikan banyak bawang.

Setelah dipanen bawang itu tidak bisa langsung dijual, harus di potong dulu akar-akarnya lalu dipotong juga daunnya, setelah itu dijemur selama beberapa minggu sampai benar-benar kering. Proses penjualannya sangat lama sehingga mendapatkan uang juga sangat lama. Di sini aku belajar untuk menghargai hal kecil-kecil yang dapat menjadi besar. Jujur saja, biasanya aku tidak menghargai uang 500 perak, seribu , dan juga dua ribu. Jika ada uangku yang sejumlah itu hilang, aku tak ada rasa cemas bahkan tak berkeinginan untuk mencarinya. Tapi ternyata uang dua ribu di desa ini terasa sungguh berharga, apalagi jika dilihat darimana mereka mendapatkan uang-uang itu. Mereka rela berjalan jauh pergi ke ladang, mereka rela berjam-jam di ladang merunduk untuk menanam / memanen hasil. Dari sini aku merasa, sepersen uangpun tercipta dari hasil kerja keras. Meskipun ayah kandungku tidak pergi ke ladang tapi pasti ia juga bekerja keras untuk mendapatkan uang-uang tersebut. Sedangkan aku hanya menganggap enteng uang dan kurang bisa menghargai uang.

Sampai di rumah kami cukup kelelahan, setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan kegiatan dengan mencuci baju. Dengan sisa –sisa tenaga dari memanen bawang tadi aku akhirnya tetap mencuci baju bersama Ajeng dan Theresa adik asuhku. Kita memulai mencuci bersama-sama, tapi aku selesai paling akhir. Theresa yang mencuci lebih banyak baju dari akupun selesai terlebih dahulu. Sedangkan aku yang hanya mencuci sedikit baju belum juga selesai bahkan setelah Theresa sudah selesai makan.

Apalagi saat mencuci celana jinsku, aku sudah membilas dan memeras berulang kali tapi tetap saja masih banyak sabunnya. Ibu yang sudah selesai memasak pun menghampiriku, dia bertanya kenapa belum selesai juga, lalu beliau langsung membantuku mencuci celana jinsku, dalam hitungan kurang dari satu menit, “tadaaa” celana jinsku sudah bersih dari sabun. Ibu sungguh lihai dalam memeras, ternyata mencuci bukan hal yang gampang. Untungnya air di desa Cemoro gratis langsung dari mata air, sehingga aku tidak merasa bersalah sudah membuang air terlalu banyak hanya untuk mencuci. Begitu juga dengan menyetrika, sebelumnya kupikir menyetrika itu gampang bahkan seru, faktanya kemarin tanganku hampir kena setrika.

Nah, setelah melakukan hal-hal itu dengan tanganku sendiri, aku menjadi tau seberapa sulit  mencuci dan menyetrika baju. Hal ini mengingatkan pada pembantuku di rumah. Aku merasa tidak enak hati kepada pembantuku di rumah yang sering terkena marahku jika ada pakaianku yang tidak dicuci dengan benar. Aku juga sering mengeluh mengapa pembantuku selalu tidur cepat kira-kira pukul 9-10an. Sehingga pada jam tersebut aku terpaksa melakukan semua pekerjaan sendiri. Sekarang aku mengerti mengapa mereka tidur cepat. Mengerjakan pekerjaan rumah membuat tubuh ini sangat lelah bahkan membuatku sudah tertidur meskipun masih pukul 8 saat itu. Dari sini, aku menjadi tak enak hati lagi kepada pembantuku di rumah, yang ku anggap “malas” karena tidur terlalu cepat.

Setelah membantuku mencuci tadi ibu asuhku masih harus mengurus ke-3 anaknya sendiri yang masih kecil-kecil. Bapak pergi ke ladang sejak pagi dan baru akan pulang sore harinya. Sehingga pada siang hari ibulah yang menjaga ke-3 anak-anaknya itu. Anak pertama duduk di kelas 6 SD, yang kedua duduk di kelas 3 SD, sedangkan yang bungsu masih berumur 2 tahun. Adik asuhku yang paling kecil, Bambang masih sering meminta asi pada ibu, sehingga tak jarang ibu memasak dengan memberi asi. Padahal Bambang sudah mempunyai gigi-gigi susu tetapi ibu tetap sabar setiap kali Bambang meminta asi padanya. Dengan segala keletihan tubuhnya, beliau tetap tak pernah lupa tersenyum dalam melakukan segala hal. Hal itu juga membuatku menyadari betapa besar pengorbanan baik ayah maupun ibu pada anak-anaknya. Ayah dan ibu kandungku juga selalu tersenyum dan tak pernah menceritakan masalah yang sedang mereka alami kepada anak-anaknya padahal pasti ada masalah yang sedang dihadapi. Hal itu membuatku tidak boleh menambah masalah, malahan aku harus membalas semua pengorbanan yang telah mereka lakukan.

Intinya dari pengalaman live in ku ini aku mendapat banyak hal yang dapat ku petik hikmahnya. Dan mulai saat ini aku akan menghargai pembantuku di rumah. Tidak lagi memarahi mereka jika mereka tidak bekerja dengan sempurna apalagi menghakimi mereka malas seperti waktu dulu. Juga tidak lagi menghamburkan dan tidak menghargai uang hasil jerih payah orang tuaku. Mulai sekarang, aku bertekat akan menghargai semua hal meskipun kecil yang ada di sekitarku. Dan akhirnya dari live in ini aku bersyukur kepada Tuhan Yesus atas pengalamanku yang dapat menjadikan bekal untuk hidupku ke depan.

AMDG

 

Penulis: Moudy Lavenia Mangkusasmito XF/22

*) Sebuah sharing dan refleksi live in kelas X 14 – 18 April 2012 di Parakan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *