Mendalami Sifat-Sifat Gereja Menggunakan Model PBL Berbasis IFP di SMA Kolese Loyola

 

Sebagai sekolah Katolik yang inklusif, SMA Kolese Loyola terbuka bagi peserta didik dari berbagai latar belakang agama, meskipun kurikulum pendidikan agamanya berfokus pada Agama Katolik. Prinsip inklusivitas ini terwujud dalam pembelajaran Agama Katolik di kelas XI B yang diampu oleh Frater Alexius Aji Pradana, SJ. Dalam materi Sifat-Sifat Gereja (Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik), nilai-nilai yang diajarkan sejatinya bersifat universal dan dapat dihidupi oleh seluruh murid tanpa memandang agamanya. Sebagai contoh, konsep sifat Gereja yang “satu”—yakni kesatuan dalam iman, pimpinan, dan peribadatan—juga ditemukan dalam ajaran agama lain sebagai pengikat keberagaman para penganutnya.

Guna memperdalam pemahaman tersebut, pembelajaran dikemas secara interaktif menggunakan model Problem-Based Learning (PBL). Para murid dibagi ke dalam kelompok untuk berdiskusi dan menyampaikan hasil pemikirannya melalui presentasi, yang kemudian ditanggapi secara kritis oleh kelompok lain. Proses pembelajaran ini makin optimal berkat pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media presentasi. Selain praktis karena menggantikan integrasi komputer dan proyektor, IFP menyajikan visual dengan warna yang lebih tajam serta fitur interaktif yang memungkinkan guru maupun murid untuk mencoret, mengoreksi, dan memberi catatan langsung pada layar secara real-time.