Press Release Konser Gamelan Soepra

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

Konser Gamelan Soepra SMA Kolese Loyola

di Lawang Sewu 2015

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

Dalam rangka memperingati 50 tahun pemberian nama SOEPRA pada komunitas dan instrumen gamelan diatonis oleh Ir. Soekarno (Presiden pertama Indonesia), SMA Kolese Loyola Semarang akan menyelenggarakan acara konser musik gamelan. Acara yang bertajuk RISING SOEPRA ini diharapkan dapat menghidupkan kembali geliat apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah dan menarik minat masyarakat pada peninggalan sejarah, salah satunya Lawang Sewu.

Acara ini berlangsung pada hari Sabtu, 13 Juni 2015, di halaman Lawang Sewu Semarang pada pukul 18.00 – 21.00 WIB. Para pemain istrumen gamelan yang merupakan siswa-siswi SMA Kolese Loyola, akan memainkan lagu-lagu masa kini di antaranya:Payphone-Maroon Five, Gangnam Style, What’ive Done-Linkin Park, dan tak lupa lagu Indonesia, Rayuan Pulau Kelapa.

Itulah keunikan Gamelan SOEPRA: alat musik tradisional namun dapat memainkan lagu-lagu modern. Mengapa bisa demikian? Gamelan SOEPRA sangat unik dan memiliki kekhasan pada nada yang dihasilkan, sehingga mampu memainkan musik-musik pop masa kini sesuai dengan tangga nadanya (diatonis). Dengan konser ini, diharapkan orang muda kian tertantang untuk memainkan alat musik tradisional khas Indonesia dengan aktualisasi modern dan semakin memiliki jiwa “Indonesia!”.

Gamelan Soepra diciptakan oleh Pater Henricus Constant van Deinse, SJ yang lebih akrab dipanggil dengan Pater van Deinse pada tahun1957. Nama Gamelan Soepra ini diberikan langsung oleh Presiden RI pertama Bung Karno dalam pembukaan kongres VII Partai Katolik di Istora Senayan Bung Karno, Jakarta pada tanggal 22 Juli 1965. Kata “Soepra” merupakan singkatan dari Soegijapranata, SJ. Beliau adalah pahwalan nasional yang uskup pribumi pertama yang sekaligus menjadi sahabat karib Bung Karno. Hal ini sebagai peringatan jasa-jasa beliau yang wafat tepat 2 tahun dari kongres itu (22 Juli 1963).

Gamelan ini berbeda dengan gamelan jawa tradisional. Letak perbedaannya adalah pada nadanya. Nada dalam Gamelan Soepra adalah nada diatonis, sedangkan Gamelan Jawa bernada pentatonis. Kata diatonis berasal dari bahasa latin diatonicus yaitu aturan nada yang terdiri dari tujuh jenis bunyi yang ditulis di atas garis titik nada yaitu; do, re, mi, fa, sol, la, si. Gamelan Soepra disebut kromatis karena dia menggunakan deretan not tangga nada yang terdiri dalam 12 nada dalam satu oktaf. Jadi kalau diurutkan dia berisi not C, C#, D, D#, E, F, F#, G, G#, A, A#, B, lalu C. Sedangkan pentatonis berasal dari bahasa latin pentetonicus yaitu aturan nada yang terdiri dari lima jenis bunyi . Kelima jenis bunyi itu terdiri dari C, E, F, G, B (Pelog) atau C, D, E, G, A (Slendro). Dengan demikian gamelan jawa tradisional hanya bisa memainkan lagu yang terbatas. Misalnya lagu “Yen ing Tawang ana Lintang” memakai pelog sedangkan  “Rek Ayo Rek” memakai slendro.

Gamelan Soepra awal mulanya hanya dimainkan pada saat karnaval saja. Sejak tampil di hadapan Bung Karno pada tahun 1965, Gamelan Soepra lebih dikenal banyak orang. Beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 1988, Gamelan Soepra tampil di Candi Borobudur pada saat menyambut Ratu Juliana beserta suaminya dalam pertukaran pelajar Indonesia-Perancis. Presiden RI Megawati Soekarno Putri pun pernah melihat langsung pertunjukkan Gamelan Soepra pada perayaan Natal Nasional di Jakarta tanggal 27 Desember 2003. Di Tribun Jabar – Metro Bandung, Gamelan Soepra pernah menghibur penontonnya dalam konser pada tanggal 5 April 2005. “Saya tampil sebagai bintang tamu dan juga berkolaborasi dengan gamelan. Bintang tamu lainnya adalah Rifky AFI”, ujar Jubing ketika tampil berkolaborasi dengan Gamelan Soepra tanggal 3 Mei 2008 di SMA Kolese Loyola Semarang. Tim Gamelan Soepra SMA Kolese Loyola mendapat kesempatan tampil di Natalan Nasional 2013 di Gedung Jakarta Conffension Centre Senayan pada tanggal 27 Desember 2013. Kesempatan tampil di acara Natalan Nasional ini didukung oleh Bp. Purnomo Yusgiantoro (Menteri Pertahanan) saat itu. Selain itu juga didukung oleh para alumni (KEKL : Keluarga Eks Kolese Loyola) komisariat Jakarta. Penampilan tahun 2013 ini merupakan penampilan ke-2 pada acara kenegaraan yang sama, seperti pada tanggal 27 Desember 2003. Penampilan tim gamelan Soepra ini telah memberikan pengaruh positif pada keterlibatan sekolah dalam kegiatan keluar , sehingga ada satu aset penting budaya yang harus dilestarikan. Selain event-event luar, Gamelan Soepra sering menjadi bintang pada saat acara-acara internal di SMA Kolese Loyola.

Seperti yang diungkapkan oleh Nadia Yudissa yang pernah menjadi anggota Gamelan Soepra, “Kalau yang kasat mata kita diajari untuk bermain musik dengan gamelan ini. Tetapi untuk moral lesson, saya belajar untuk lebih sabar, membantu teman jika ada teman yang kurang bisa sebagai salah satu bentuk peduli dengan teman (compassion)”. Senada dengan hal itu, Elsa yang merupakan anggota Gamelan Soepra menambahkan, “Kita diajari untuk kompak dan mengerti satu dengan yang lain agar dalam memainkan Gamelan Soepra ini terdengar sempurna”.

SMA Kolese Loyola merupakan institusi pendidikan dengan menonjolkan sisi pendidikan yang humanis. Pendidikan Humanis merupakan pendidikan dengan menggali seluruh potensi peserta didiknya dengan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Melalui Gamelan Soepra, SMA Kolese Loyola dapat mendidik karakter peserta didik menjadi karakter humanis, menjadikan pribadi-pribadi yang unggul dan matang. “Gamelan Soepra mendidik kita lebih terarah pada kecintaan akan budaya setempat yang terbuka pada budaya global sehingga memungkinkan siswa-siswi SMA Kolese Loyola menerima keunikan masing-masing dan berekspresi kreatif yang membebaskan”, ujar Bruder Yustinus Triyono, SJ, M.Sc, selaku Kepala SMA Kolese Loyola.

Ch. Pranatahadi

Tim Konser Soepra

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *