Di suatu hari di pertengahan bulan Januari, tiba-tiba muncul dokumen yang menyatakan bahwa aku dan beberapa temanku masuk dalam daftar kandidat seleksi Beasiswa Indonesia Maju. Pada saat itu kami hanya diberi waktu kurang lebih satu hari untuk mempersiapkan berkas, tes inggris, dan beberapa esai. aku yang masih penuh kebingungan awalnya hanya mengikuti alur seleksi dengan melanjutkan tahap tes yang dilaksanakan seharian kemudian wawancara. Tanpa terduga, ternyata aku berkesempatan untuk mengikuti program persiapan Beasiswa Indonesia Maju Taman Sains. Awalnya, aku benar-benar tidak tahu harus senang atau sedih. Di satu sisi, aku harus berpisah dengan keluarga dan teman-teman selama 10 bulan. Apalagi, tidak jadi ikut ke Bali setelah satu semester menggalang dana bersama teman-teman sekelas. Tapi, di satu sisi, aku merasa senang akan kesempatan yang tidak pernah terpikirkan oleh aku sebelumnya. Selain itu, berkuliah di luar negeri memang adalah impianku dari dahulu.
Sebagai murid SMA yang pertama kali hidup di asrama, jujur saja aku merasa excited untuk bisa coba hidup lebih mandiri. Apalagi selama bimbingan ini, aku banyak bertemu dengan teman dan kakak kelas yang unik dan sangat berprestasi sampai-sampai aku merasa tidak percaya diri. Hampir semua orang sudah mahir dan tahu menahu mengenai jurusan yang diincar saat kuliah nanti. Namun, setelah mengenal mereka semua, aku justru mendapatkan banyak inspirasi dan pelajaran, terutama dalam cara berinteraksi dan mendalami ketertarikan kita.

Salah satu hal yang banyak menghibur kerinduan aku dengan keluarga dan teman adalah kebersamaan di asrama. Mulai dari merayakan ulang tahun, pergi beli nasi goreng, jalan pagi dan mengerjakan project bersama. Salah satu keuntungan dari tinggal bersama teman yang beragam, aku juga bisa belajar sedikit bahasa hokkien dan batak hehe.




Selama kurang lebih 9 bulan, aku mendapat kesempatan untuk belajar bahasa mandarin dengan native speaker melalui zoom. Untungnya, aku dapat laoshi yang masih muda dan cocok dengan humor aku dan teman-teman aku sehingga kami cepat bonding dan enjoy pembelajaran bahasa mandarin.

Di bulan Mei, aku berkesempatan untuk mengikuti Training of Trainer 2024, yang berlangsung selama kurang lebih 3 minggu di Suzhou Industrial Park Institute of Vocational Technology. Aku dan 5 temanku dapat kesempatan berharga untuk bisa mempelajari precision agriculture dengan dosen-dosen dan praktisi dari Suzhou. Kami, sebagai satu-satunya representatif pelajar SMA di program ini senang karena kami tidak hanya belajar mengenai arduino dan IoT tetapi juga belajar mengenai manajemen, bioteknologi, dan sejarah agrikultur China. Selain itu, aku juga banyak berinteraksi dan belajar cara bertukar pikiran dengan dosen, murid lokal, dan peserta lainnya yang beragam ahli bidang dan usia, dari mahasiswa hingga kakek-kakek berusia 65 tahun. Pengalaman pertama traveling bersama teman, kejadian terpisahnya teman tanpa handphone di stasiun kereta, dan hilangnya tas teman benar-benar mengajarkanku mengenai pentingnya kedisiplinan dan keterampilan hidup.




Di beberapa bulan awal, kami belajar programming bahasa Python. Sebagai tugas akhir, aku mengembangkan sebuah aplikasi penerjemah bahasa isyarat menggunakan MediaPipe dan OpenCV meskipun belum sampai ke tahap tampilan pengguna.

Bagian paling bermakna bagiku adalah saat belajar fisika dengan dosen-dosen yayasan SIMETRI, yaitu pelatih tim nasional olimpiade fisika Indonesia. Di kursus ini, kami semua kembali mengulang materi fisika dari kelas 10, namun di tingkat yang lebih dalam. Meskipun terkadang sulit dicerna, kursus ini sangat menarik bagiku karena para guru menggunakan buku dan ilustrasi yang lengkap, menjelaskan banyak penjelasan teori dan kasus, dan menunjukkan eksperimen dan demonstrasi.


This is Pak Hendra (nicest teacher everr!)
Salah satu proyek berkelompok jangka panjang yang aku kerjakan adalah AFIRMBOT. Sebenarnya ini adalah proyek robotik pertamaku sejak SD sehingga awalnya aku tidak berani mengambil peran lead engineer. Lama kelamaan, aku semakin tertarik dengan komponen-komponen robotik. Meskipun begitu, proyek ini sempat terhenti selama 1.5 bulan karena konslet sebelum akhirnya terselesaikan dan dipresentasikan di Gelar Karya Beasiswa Indonesia Maju.


Tidak hanya proyek robotik, aku juga ikut serta di berbagai proyek sosial dan edukasi. Contohnya menjadi volunteer pengajar osn fisika untuk anak smp dari Papua, pengajar anak-anak panti asuhan di Bogor dan Depok, dan manager platform edukasi bahasa inggris melalui Instagram.



Selain kursus dan proyek, aku juga sempat mencoba beberapa lomba dan salah satunya adalah lomba riset biologi sintetik mengenai salah satu alternatif pengobatan leukemia limfoblas akut dibawah bimbingan murid S2 yang meraih grand prize di BIOS 2024. Di sela-sela waktu persiapan pendaftaran universitas, aku juga meluangkan waktu untuk belajar fisika sebelum mengikuti lomba olimpiade Medspin.


Guru-guru, kakak kelas, dan teman-teman sangat banyak membantu dalam persiapan pendaftaran perguruan tinggi, IELTS, dan SAT. Berkat BIM, aku bisa melewati segala proses tersebut dengan baik dan puji Tuhan, aku diterima di beberapa universitas top di dunia. Kesempatan ini telah merubah hidupku sepenuhnya dan kini aku sudah lebih percaya diri dan siap untuk menempuh jenjang pendidikan selanjutnya. Di bulan Agustus nanti, aku akan memulai studi aku di National University of Singapore, dimana aku akan mendalami teknik sipil dan manajemen. Aku tidak sabar untuk bisa ketemu sama teman-teman, guru dan pribadi baru dan mulai belajar hal-hal baru nantinya. Sampai jumpa di lain kesempatan!



