Cerita Beasiswa Indonesia Maju oleh Dom

Tanggal 8 Februari 2024, saya matikan notifikasi handphone karena sedang main Clash of Clans. Tanpa saya sadari, teman saya miss-call beberapa kali. Ternyata saya diterima dalam program Beasiswa Indonesia Maju Taman Sains angkatan IV, atau BIM TS IV. Begitu mengetahui kabar ini, saya langsung lompat-lompat dalam kesenangan.

Saya hanya punya waktu beberapa minggu untuk mempersiapkan diri pindah ke Jakarta selama sepuluh bulan. Meskipun dari luar terlihat seolah-olah saya langsung menerima keputusan tersebut tanpa ragu, kenyataannya tidak semudah itu. Butuh beberapa hari untuk benar-benar mempertimbangkannya.

Sebagian teman memberikan dukungan penuh, namun tak sedikit juga yang hingga sekarang masih mempertanyakan keputusan saya dan menyoroti berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi karena saya mengikuti program beasiswa ini. Setelah banyak pertimbangan dan diskusi bersama orang tua, saya akhirnya memutuskan bahwa ini adalah kesempatan yang sangat berharga dan tidak boleh saya lewatkan.

 

 

Dari program ini, saya tidak hanya diajarkan pelajaran sekolah. Saya juga belajar cara memberikan presentasi, pidato, leadership, dan berbagai soft skill lainnya. Pada Juli 2024, saya mendapat kesempatan untuk pergi ke Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) selama dua minggu untuk mengikuti summer program mereka. Kebetulan, mereka memiliki kolaborasi dengan AlibabaCloud. Karena itu, saya mendapat sedikit ilmu tentang bisnis, AI, cloud computing, dan juga bisa merasakan pengalaman hidup di kampus luar negeri. Di akhir dua minggu, saya diminta untuk memberikan presentasi proyek kelompok di depan Professor Emily Nason (Director of Undergraduate Recruitment and Admissions at HKUST) dan Raymond Tsang (Global Training Advisor in AI / Senior Technical Trainer di AlibabaCloud).

 

 

Pada Oktober 2024, saya mendapat kesempatan lain untuk pergi ke Chonnam, Korea, dan mengikuti lomba coding Python, The 9th World Innovative Technology Challenge. Selama program BIM TS di Jakarta, kami sudah belajar coding menggunakan Python. Namun, untuk lomba ini, saya juga latihan menggunakan LeetCode sebagai persiapan. Saya merasa sangat beruntung bisa meraih medali emas dalam kompetisi ini.

Bersama teman-teman, saya juga sempat mengadakan aksi sosial, di mana kami pergi ke panti asuhan untuk mengajar anak-anak bahasa Inggris dan memberikan donasi. Secara total, kami menyumbangkan 120 botol susu, 300 buku, dan 300 pena. Kami juga menyiapkan makan siang untuk 70 orang dan membimbing 60 anak agar bisa berbicara bahasa Inggris dasar. Pengalaman ini cukup melelahkan karena kami harus menggunakan transportasi umum selama satu jam, lalu berjalan kaki satu jam lagi ke panti sambil membawa barang-barang donasi. Saat pulang, kami harus menempuh perjalanan yang sama. Meskipun capek, pengalaman ini sangat seru dan berkesan, mengetes disiplin.

 

 

Terakhir, saya juga sempat menjadi ketua dalam sebuah proyek selama menjalani program BIM TS. Dalam proyek ini, saya membuat prototipe robot pemadam kebakaran yang bisa dikendalikan melalui Bluetooth dari handphone. Proyek ini memakan waktu enam bulan untuk diselesaikan. Awalnya, hanya saya yang memiliki pengalaman dalam robotika, sementara anggota lainnya belum pernah mengerjakan proyek robotik. Karena itu, saya harus mengajarkan mereka dasar-dasar robotik. Lucunya, dulu saat ikut ekstrakurikuler robotik di sekolah, saya jarang mendengarkan dan hanya paham bagian coding dan menyolder. Karena itu, saya sendiri juga harus belajar ulang robotik dari awal, agar bisa menyelesaikan proyek ini sekaligus membantu teman-teman saya belajar. Hasil prototipe ini dipertunjukan di Gelar Karya Beasiswa Indonesia Maju tahun 2024, pada bulan November.

 

Semua pengalaman ini membuat saya tumbuh, bukan hanya secara akademis, tetapi juga secara mental dan sosial. Saya belajar untuk memimpin, disiplin, bekerja dalam tim, beradaptasi di lingkungan baru, dan menghadapi tantangan dengan rasa ingin tahu. Kini, saya bersyukur karena semua usaha ini membawa saya ke tahap berikutnya dalam hidup: melanjutkan studi di National University of Singapore (NUS), mempelajari teknik mesin dengan spesialisasi robotika. Bahkan diberi tawaran beasiswa ASEAN Undergraduate Scholarship dari mereka. Saya tidak sabar untuk terus berkembang dan menghadapi pengalaman baru di masa depan.