Oleh : Dhanurendra N XII I 09
Sudah menjadi budaya turun-temurun bahwa di suatu organisasi hobi di SMA Kolese Loyola mengadakan sarasehan. Momen ini menjadi titik puncak masa kepemimpinan yang dilakukan oleh angkatan sebelumnya dan regenerasi kepengurusan yang akan diserahkan kepada angkatan di bawahnya. Kegiatan ini melatih jiwa kepemimpinan di dalam diri KKL yang mengikuti OH di periode mendatang. Hal ini tidak hanya ditujukan untuk melimpahkan tanggung jawab kepada angkatan selanjutnya, melainkan juga mempererat rasa kekeluargaan antar anggota. Begitu pula dengan yang dilakukan oleh organisasi hobi Paskibra Loyola.
Hari Jumat, 7 Maret 2025 merupakan tanggal indah bagi angkatan 73, sebab panji kepengurusan mereka telah usai di Paskibra ini. Selama kurang lebih satu tahun memimpin, mendedikasikan diri dengan penuh rasa tanggung jawab, dan hormat, cinta tanah air Indonesia, para pengurus Paskibra 73 telah selesai melaksanakan kewajiban mereka. Selama menjabat, Paskibra 73 melatih kepemimpinan diri dan memberikan bekal yang baik kepada adik-adik mereka. Kegiatan sarasehan dilakukan di gedung Aula Bellarminus yang berlangsung dari pukul 14.00-18.00 WIB. Selama sarasehan dilakukan, ada berbagai aktivitas menarik yang semakin mempererat rasa saling peduli dan kekeluargaan dalam organisasi hobi Paskibra.
Pada sesi pertama dilaksanakan latihan PBB atau baris-berbaris guna mengingat kembali pembelajaran baris-berbaris yang sudah diajarkan selama satu tahun. Pengurus juga kembali mempertegas disiplin dalam kekompakan gerakan baris-berbaris. Walaupun cuaca kurang mendukung, tidak menggetarkan hati kami untuk terus berlatih menjadi pribadi yang lebih baik dan disiplin. Sesi ini dilakukan selama satu jam lamanya. Setelah berlatih baris-berbaris, para anggota dipersilakan untuk istirahat dengan menghabiskan snack hanya dalam waktu tertentu.
Seusai sesi PBB, dilanjutkan dengan sesi kekeluargaan. Sesi ini dibagi menjadi tiga dinamika permainan kelompok. Pada permainan pertama yaitu membuat garis keluar labirin dari spidol yang terikat tali pada masing masing lengan anggota. Mereka harus memikirkan bagaimana strategi yang baik supaya dinamika dapat berjalan dengan baik, mereka harus saling bekerja sama, saling mendengarkan satu dengan yang lainnya, dan mereka juga harus saling menurunkan ego masing masing. Kemudian pada permainan yang kedua adalah permainan mengeluarkan bola dari ember yang berada di atas kaki. Para anggota dikumpulkan menjadi kelompok dan masing masing kelompok harus mengeluarkan bola dari dalam ember yang diletakkan di atas kaki ketika mereka sedang berbaring di lantai. Mereka harus melepaskan kaos kaki yang mereka kenakan satu persatu sampai seluruh anggota telah melepaskan kaos kaki dan kemudian mengguncangkan ember supaya bola dapat terjatuh karena tidak diperbolehkan menggunakan tangan. Pada permainan ini anggota dilatih bagaimana saling peduli dengan sekitar dan sesamanya, bagaimana menjalin kerjasama yang baik dan kepercayaan kepada sesamanya. Terakhir pada sesi ini ditutup dengan permainan mengambil cone. Kedua kelompok akan saling berhadapan dan mendengarkan instruksi dari pemberi instruksi dan ketika instruktur memberikan kata “cone” maka mereka harus berebut mengambil cone yang berada di lantai tersebut dengan cepat. Dinamika ini melatih anggota untuk tetap fokus pada tujuan yang seharusnya mereka capai dan tidak mudah terganggu dengan kondisi sekitar mereka. Selesai sesi dinamika kekeluargaan, para anggota berganti baju formal untuk melaksanakan pelantikan dan pengukuhan anggota dan pengurus baru.
Sarasehan ini ditutup dengan sesi voting menentukan pengurus baru yang nantinya akan bertugas selama satu tahun kedepan melanjutkan tombak perjuangan dari pengurus 73. Setelah selesai dilaksanakan voting, dilanjutkan dengan apel pengukuhan anggota paskibra dan kepengurusan yang baru. Pelantikan dilakukan dengan penerimaan pin anggota paskibra dan mencium sang saka merah putih sebagai pertanda pengabdian sepenuhnya pada tanah air. Usai semua rangkaian pelantikan, kemudian seluruh anggota mengabadikan momen bersama dan saling memberi peneguhan semangat kepada sesama.
Dengan selesainya apel pula, menjadi pertanda selesainya kepengurusan 73 yang kemudian akan dilanjutkan oleh angkatan 74 dengan penuh tanggung jawab dan semangat.
Dengan meneriakkan “Pantang bubar sebelum berkibar” menjadi bentuk komitmen anggota paskibra selanjutnya bahwa mereka akan melaksanakan tugas mereka hingga titik penghabisan terakhir.





